Rabu, 11 Juni 2014

Selamat pagi pendukung fanatik

Selamat pagi... 

Kali ini saya akan menyampaikan sedikit uneg-uneg setelah membaca beberapa postingan di media sosial. Awalnya saya memang tidak begitu berniat untuk menyampaikan ini, tetapi setelah difikir - fikir apa salahnya sih menyampikan pendapat.

Ini saya buat karena saya merasa risih dengan postingan teman-teman yang begitu fanatik mendukung capres - cawapres kita sekarang. Saya bukan ahli politik, dan tidak begitu paham politik. Jadi saya tidak akan membahas itu lebih lanjut, takutnya salah ngomong. 
Yang akan saya sampaikan justru adalah soal pendukungnya yang begitu "anarki" . Anarki bukan dalam konteks saling adu fisik, yang kemudian menghancurkan fasilitas umum. Bukan... Bukan itu. Tapi terlalu berlebihannya mereka mendukung sehingga tanpa mereka sadari, orang - orang yang membaca postingan - postingan mereka malah menjadi muak (ini tidak tahu apakah saya saja yang muak atau yang lain juga).
Memberi dukungan itu sah - sah saja, kok. Apalagi untuk sekarang adalah dukungan untuk capres - cawapres yg nantinya akan memimpin negara kita. Masing - masing dari mereka pasti punya sisi positif dan negatifnya. Pasti punya cerita lalu yang mungkin kelam, tapi juga tidak menjamin nanti masa depan jadi cerah juga (lah, ini apa??? :D .. Ingat tidak ada manusia yang tidak luput dari kesalahan). 
Lalu... Apa salahnya jika kita memposisikan situasi ini menjadi lebih nyaman. Apa salahnya jika kita menjadi pendukung yang baik. Mendukung sewajarnya dan tidak menjatuhkan satu sama lain. Toh kalian yang berpendapat belum tentu tau benar kenyataannya seperti apa. Lagi - lagi saya harus mengatakan masing - masing dari mereka ada plus - minus nya. Tentu saja, sudah pasti setiap orang punya pendapat yang berbeda - beda. Tapi apa salahnya jika kita sebagai pendukung lebih legowo dan atur emosi (yang saya takutkan adalah pendukung yang jadi adu fisik di ring tinju gara2 perbedaan pendapat). Bisa menerima kekurangan dan mensyukuri kelebihan itu luar biasa jempolnya lho. 
Saya tidak akan mempengaruhi kalian yang membaca untuk memilih siapa. Tidak juga menjadi warga negara yang tidak baik karena golput. Semua ada di tangan masing - masing. 
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Dukungan sekalipun, bisa saja yang begitu berlebihan malah menjatuhkan. *senyum cantik*

- Sekian dan terima kasih - 

Kamis, 15 Mei 2014

Rindu

15 Mei 2014

"Selamat malam, sayang. Maaf hari ini aku memutuskan untuk diam. Bukan kerana marah atau membencimu. Hanya saja ucapanmu semalam membuatku berfikir, apa yang harus aku lakukan sekarang."

Entah sudah berapa kali kusembunyikan tangisku dibalik selimut ketika aku beranjak tidur. Sejujurnya aku tak ingin meleburkan air mataku saat itu. Hanya saja sunyinya malam itu semakin menambah kacaunya suasana hatiku.
Ini tak seperti biasanya. Aku pun belum terbiasa dengan keadaan ini. Sudah berapa lama kita tidak bertemu, sayang. AKU RINDU.
Yaa... Aku merindukanmu. Aku ingin sebuah pertemuan. Pertemuan yang bisa menenangkanku saat ini.
Aku hanya mampu menangis menahan rinduku. Merengek memintamu untuk datang ke kota ku, namun percuma... Waktu belum berpihak pada kita.
Setiap hari ku katakan "aku rindu... Aku rindu... Aku rindu, sayang"
Tapi apa? Kamu bilang sikapku itu masih seperti anak-anak labil. Aku wanita. Mengertilah... Aku berbeda denganmu. Kamu bisa menahan rindumu. Tapi aku? Sekali lagi aku berbeda. Aku tidak sepertimu.

Rinduku tak berbatas waktu. Saat ini kita berada di dua tempat yang berbeda. Jaraknya pun tak bisa dihitung dengan jengkal. Pertemuan pun terbatas. Jadi wajar kan jika aku merindukanmu setiap waktu. Bukan berlebihan, bukan kekanak-kanakan, tapi ini kejujuran. AKU RINDU.

Katamu aku harus jadi wanita kuat dan wanita tegar. Namun ketika rindu beradu, terhalang waktu, dan raga belum mampu bertemu. Aku merasa tak mampu menjadi wanita yang kamu inginkan. Rindu itu kuat, sayang. Meruntuhkan segala kekuatan dan ketegaranku. Apalagi ketika rencana pertemuan harus berantakan. Aku bisa apa selain menangis? Rasa bahagia yang sudah mulai ada harus hancur seketika.
Apa kamu pernah merasakannya,sayang? Kurasa tidak. Kamu selalu menjauh dari rasa itu. Iya kan?
Mmm... Bukan menjauh ya? Mungkin sedikit menggeser dari tempat semula, lalu membuatmu merasa biasa saja dengan rindu dan segala sesuatunya.

Sekarang.. Setelah aku lebih tenang. Dan mengingat kembali beberapa hal yang kamu sampaikan, kuputuskan untuk tidak menunjukkan segala sesuatu yang kamu bilang jelek itu padamu. Aku tidak akan menangis ketika kita berbincang di telepon, aku tidak akan mengucap "aku rindu" lagi padamu, aku tidak akan merengek memintamu untuk menemuiku disini lagi, aku akan berbicara seperlunya, dan aku akan mencoba menjadi sepertimu. Yang terlihat cuek dan tidak pernah peduli itu.
Semoga kamu tidak merindukan kebisaan "buruk" ku.

Selamat malam, sayang. Semoga hari esok lebih baik dari hari ini.
Masih tetap dengan cinta dan sayangku padamu.